Sejatinya,
mahasiswa identik dengan gerakan progresif, penuh gagasan, dan kreativitas. Potensi-potensi
positif ini merupakan aset penting bagi kemajuan agama, dan aspek-aspek
penunjang lainnya. Potensi dan bakat yang mereka miliki tidak begitu saja
tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Perlu upaya keras untuk menggali
potensi dan bakat seorang mahasiswa agar manejadi generasi yang terampil dna
berprestasi. Hal ini dapat dimulai dari rutinitas membaca, menulis, berpikir,
dan mengikuti kegiatan mahasiswa (HIMA, UKM, dsb). Selain menjadi nilai plus,
kegiatan ini tentu akan mempengaruhi pola pikir mahasiswa, cara memandang
berbagai persoalan, dan peningkatan kekritisannya.
Menurut sejarahnya, mahaiswa
mampu membawa perubahan pada Indonesia dari orde baru ke reformasi, seperti
presiden pun bisa lengser dengan kekuatan mahasiswa. Ia memiliki gejolak dan
semangat yang lebih dibanidngkan masyarakat pada umumnya. Namun, kebanyakan
diantaranya ada yang menggunakan predikat ‘mahasiswa’ untuk melakukan
tindakan-tindakan yang amoral. Sangat disayangkan bila seorang mahasiswa yang
dikenal dengan sebutan kaum intelektual tidak memiliki etika dan moral dalam
setiap aksinya. Sebenarnya, semangat tanpa diikuti dengan ilmu, akhlak, dan
moralitas akan membuat langkah mahasiswa menyimpang dari nilai kebaikan.
Daya kritis mahasiswa akan
mempengaruhi sikap mereka terhadap agama, bangsa, dan negaranya. Mereka tidak
akan menerima begitu saja semua informasi dan pengajaran yang didapat di meja
perkuliahan. Mahasiswa cerdas, biasanya menganalisis dan memahami apa yang
mereka dapatkan, baik dari membaca, menyaksiakan berbagai peristiwa dari media,
dan mendiskusikan dengan orang yang dianggap memiliki pengetahuan darinya. Oleh
karena itu, mahasiswa perlu disarankan dan diberi kesempatan yang luas untuk
mengenal, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang sesuai dengan daya
kritis dan cara pandangannya. Mahasiswa bahkan perlu didorong dan ditantang
untuk menjadi pelopor pembangunan rohani dalam masyarakat.
Sebagai kaum terpelajar,
mahasiswa tentu seharusnya lebih cerdas dalam berbagai hal. Tidak hanya
dituntut mampu menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, tapi juga dituntut
untuk taat beribadah sesuai agama masing-masing yang diikuti akhlak baik,
terutama dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Namun, nilai moral belum
banyak dipahami dan disadari oleh sebagian mahasiswa. Sehingga sering terlihat
mahasiswa melakukan tindakan-tindakan menyimpang yang tak layak dilakukan
seseorang yang bergelar ‘kaum intelektual’. Sering kali hawa nafsu yang merajai
sifat manusia muncul karena manusia kerap melalaikan persoalan moralitas,
spiritualitas, dan akhlak.
Selain kurangnya pendidikan
agama dan mora, pergauan dan mengijuti trend
masa kini menjadi persoalan yang tak bisa dipungkiri. Sperti kasus yang
dialami mahasiswa yang malas belajar dan emmilih menghabiskan waktu bermain game dan browsing sehingga melupakan tugasnya sebagai seorang mahasiswa. Contoh
kasus lainnya seperti mahasiswi yang fanatic terhadap fashion up to date seperti sekarang. Banyak mahasiswi yang berani
menggunakan hot pants, rok mini, dan baju minim lainnya, sehingga gaya
hidupnya mulai berbelok dari apa yang telah diajarkan.
Mahasiswa kini, sudah lupa
pada tugas dan hakikatnya. Karakter intelektual, kritis, analisa tajam, dan
memperjuangkan masa depan bangsa, seolah-olah punah atau hilau dalam jati
diirnya. Peran sejatinya sebagai mahasiswa seakan terlupakan dan cenderung
tidak dipikirkan lagi. Semua itu terlihat dari kehidupan mahasiswa sekarang
ini. Kampus sebagai pusat peradaban kaum
intelektual, seolah telah disulap menjadi pusat fashion show para mahasiswa/i dan sebagai ajang bermain untuk
mengisi waktu dengan teman-teman.
Setiap orang memang boleh
berekspresi, namun harus diingat ada batasan yang mesti diperhatikan dan
dijaga. Sebab, kita semua diawasi oleh Sang Maha Pencipta yang senantiasa
melihat, dan mendengar, setiap gerakan perbuatan dan gerakan hati kita. Jika hal
ini dapat dipahami oleh setiap orang dengan baik, khususnya mahasiswa, tentu
berbagai kerusakan akhlak, moral, amal, dan ilmu akan berkurang, bahkan mungkin
saja tidak muncul lagi pada kehidupan selanjutnya.
Sebagai penerus bangsa, pemuda/i
dari berbagai macam kelebihan dan potensi yang dimilikinya, haruslah mampu
menjaga kedaulatan bangsa dan kestabilan bangsa. Sikap kritis dan optimis
seharusnya selalu ada dalam diri mahasiswa yang menjadi Agen Of Change di masa sekarang dan masa depan. Dalam kaitan dengan
itu, perguruan tinggi diharapkan dapat membantu mahasiswanya, agar mereka mampu
mengembangkan potensi diri yang sejati serta agar tidak kehilangan jati diri
didalam era globalisasi. Para mahasiswa perlu ditantang untuk menjadi pelopor
dalam membangun agama, bangsa, dan negaranya dengan memberikan kontribusi
positif.
Mahasiswa adalah bagian baris
terdepan dari generasi ke generasi. Melanjutkan apa yang suda ada dan terus
menjalankannya. Suatu bangsa yang kaya akan SDA dan SDM namun didera oleh berbagai
permasalahan juga menjadi salah satu tanggung jawab untuk dibenahi oleh
mahasiswa. Sebab, ketersediaan pemimpin suatu negara tergantung dari pemuda/inya.
Itulah kenapa mahasiswa berperan sebagai Craetor
Of Change, Agen Of Change, Social Control, and Iron Stock.
Sehingga memang diharapkan,
kemampuan merubah moral ini dapat membawa mahasiswa kembali ke jati dirinya. Mahasiswa
yang peka, bertanggung jawab dan mau berkontribusi melalui pemikiran-pemikiran
modern demi kemajuan bangsa. Selain itu, mahasiswa juga harus mampu mengarahkan
setiap kemampuan dan potensi dirinya kke arah yang lebih bermanfaat bagi diri
sendiri dan orang lain seperti mengikuti hal-hal yang memiliki nilai positif
dan lebih mengarahkan ke hal yang dapat mengembangkan potensi yang telah
dimiliki seperti himpunan mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa. Bukan malah
sebaliknya, menyalahgunakan setiap potensi, kesempatan dan kelebihan yang
dimiliki hingga akhirnya merugikan diri sendiri. Alhasil, ketika mahasiswa
sudah mampu mengemban semua tanggung jawab yang ditompangkan di pundaknya,
kekhawatiran akan sedikitnya calon pemimpin yang baik di negeri ini akan
berangsur-angsur mengabur.
Anonym – pengurus HIMA
KMJ PLS 2014-2015
0 komentar: